Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Guru Pendusta Murid Pembohong

     Suatu Kamis sore di Padhepokan Grind Punk yang diasuh Kyai Semar Puzz para cantrik terheran-heran melihat cantrik Gareng Punk tertawa terpingkal-pingkal dengan suara gaduh. Saking gelinya, Gareng Punk ketawa sampai jungkir-balik di lantai dengan memegangi perutnya.
            Cantrik-cantrik lawas seperti Petruk Puff, Bagong Purr, Sangut Pull, Delem Putt, Tualen Puss, Merdah Punt, Bancak Punn, Doyok Pudd yang terheran-heran melihat tingkah Gareng Punk beramai-ramai mendekat. Petruk Puff sebagai cantrik paling senior dengan suara tinggi bertanya,"Ada apa Kang Gareng, ketawa kok sampai jungkir balik kayak orang edan. Memangnya ada yang lucu banget?"
              "Whuahahaha..," teriak Gareng Punk menahan geli,"Apa kamu sudah baca buku humor paling lucu sejagad raya ini, Truk?" tawa Gareng Punk sambil mengacungkan-acungkan sebuah buku ke atas.
           "Buku apa itu kang?" tanya Petruk Puff ingin tahu.
               "Ini buku Mantan Kyai NU yang menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah para Wali tulisan KH Makhrus Ali, guru ngaji  yang mengaku Kyai," sahut Gareng Punk geli.
                "Hmm, memang apanya yang lucu?" tanya Petruk Puff penasaran.
             "Dia membuat statemen fiktif imajiner bahwa tradisi tahlilan adalah budaya Hindu," sahut Gareng Punk berusaha menahan tawa,"Makhrus Ali mengarang cerita fiktif imajiner untuk membenarkan statemennya. Whahahaha, kalau ustadz secara sepihak mengklaim diri sebagai kyai dan kemudian mengajarkan kebenaran palsu yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, itu lawakan paling lucu sejagad kan jika dipercaya membuta oleh pengikut- pengikutnya yang fanatik buta?"
               "Statemen fiktif imajiner yang mana, kang?" tanya Bagong Purr menyela.
                "Nih baca halaman 23!" sahut Gareng Punk menyodorkan buku ke depan.
               Bagong Purr dengan suara keras membaca, "Tahlilan merupakan budaya agama Hindu, hal ini dibuktikan dengan ungkapan syukur dari pendeta dalam sebuah acara berikut ini, "Tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, Jatim diselenggarakan kongres Asia penganut agama Hindu. Salah satu poin penting yang diangkat adalah ungkapan syukur yang cukup mendalam kepada Tuhan mereka karena bermanfaatnya ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yang disebut geblak dalam istilah Jawa (atau haul dalam istilah NU-ed) untuk kemaslahatan manusia yang terbukti dengan diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat Islam."
            "Hwarakadah," seru Sangut Pull dengan mata berkilat-kilat,"Kalau ada pendeta Hindu membuat pernyataan seperti itu, yakinlah jika itu pendeta palsu. Jika tahun 2006 ada Kongres Asia penganut agama Hindu di Lumajang, itu juga kabar palsu, karena tidak jelas sumbernya dari mana. Sungguh, itu kebohongan terang-terangan seorang pendusta bodoh berjiwa Iblis yang berpedoman pada statemen "ana khoiru minhu" dan "ana robbukumul a'la", sehingga berdusta pun dianggap  suci dan mulia."
             "Itu sih bukan dusta Ngut," kata Gareng Punk,"Tapi sejenis schizophrenia, paranoia, delirium."
             "Lha Kang Sangut Pull, kalau peringatan kematian pada hari 1,2,3,4,5,6,7,40,100, 1000 itu apa tidak dari ajaran Hindu toh?" tanya Doyok Pudd ingin penjelasan.
              "Mana ada Hindu mengenal peringatan kematian hari 1,2,3,4,5,6,7,40,100,1000?" sergah Sangut Pull mengelus-elus janggutnya yang panjang, "Sebagai orang Bali yang pernah sekolah di pendidikan-pendidikan Hindu, belum pernah ada sumber menunjuk peringatan hari kematian  seperti  yang dijalankan umat Islam di Indonesia itu adalah berasal dari ajaran Hindu. Kakek-nenekku, bapak-ibuku, paman-bibiku, tetangga-tetanggaku, dan seluruh masyarakat Hindu yang pernah kukenal belum pernah mengadakan upacara peringatan hari kematian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000," kata Sangut Pull dengan nada protes.
            "Lha orang Hindu kalau meninggal dunia diperingati dengan cara apa dan bagaimana?" tanya Doyok Pudd minta penjelasan.
            "Orang Hindu kalau meninggal disempurnakan dengan upacara Ngaben," sahut Sangut Pull menjelaskan,"Lalu ada upacara Sraddha yang diselenggarakan 12 tahun setelah kematian seseorang. Jadi kalau ada pernyataan peringatan hari kematian 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 40, 100, 1000 adalah ajaran Hindu, Haqqul Yaqiin itu dusta. Dan Haqqul Yaqiin pula, ustadz bodoh itu pasti tidak faham sama sekali tentang apa itu Agama Hindu. Jadi itu ustadz ASBUN, ASOM, ASBAL, ASNGOB, ASJEP saja."
          "Halaah kang," sahut Bagong Purr menyela,"Ada lagi istilah baru. Apa itu yang sampean maksud dengan ASBUN, ASOM, ASBAL, ASNGOB, ASJEP?"
            "ASBUN = Asal Bunyi," kata Sangut Pull menjelaskan istilah-istilah barunya,"ASOM = Asal Omong; ASBAL = Asal Membual; ASNGOB = Asal Ngobos; ASJEP = Asal Jeplak mulutnya... He he he he," kata Sangut Pull ketawa terkekeh-kekeh.
               "Lha kalau peringatan hari kematian yang dijalankan umat Islam Nusantara itu bukan dari pengaruh Hindu, darimana asalnya kang?" tanya Doyok Pudd penasaran.
              "Menurut Romo Kyai Semar Puzz," sahut Petruk Puff menjelaskan,"Peringatan hari kematian 3, 7, 40, 100, 1000 itu dibawa oleh penyebar Islam asal negeri Campa yang berduyun-duyun hijrah ke Nusantara akibat negerinya diserbu Raja Vietnam Le Nan-tonh pada 1446 dan 1471 Masehi. Peringatan itu sendiri didapat muslim Campa akibat pengaruh dari orang-orang Syi'ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah."
               "Jadi itu pengaruh muslim Syi'ah toh?" gumam Doyok Pudd,"Tapi dibawa orang muslim Campa ya."
              "Iya, termasuk kalau bulan Suro atau Muharram orang-orang bikin bubur, itu juga pengaruh Syi'ah yang dibawa orang-orang Campa. Orang mati ditalqin, diperingati dengan haul, diperingati dengan kenduri, itu semua pengaruh Syi'ah. Istilah kenduri saja dari bahasa Persia, kanduri,yaitu peringatan mengirim doa sambil makan-makan untuk memperingati Fatimah Az-Zahrah yang merupakan leluhur imam-imam Syi'ah. Orang Campa kalau belajar membaca Qur'an masih menggunakan bahasa Persia seperti penggunaan sebutan JABAR untuk fathah, JER (Zher) untuk katsroh dan PES (Fyez) untuk dlommah," kata Petruk Puff.
            "Tapi sumber sampean itu benar-benar dari Romo Kyai Semar Puzz?" Tanya Doyok Pudd memastikan untuk tidak tertipu seperti statemen uztadz lepus Makhrus Ali.
              "Itu memang dari Romo Kyai Semar Puzz," kata Petruk menegaskan,"Tapi sumbernya bisa kamu baca di tulisan-tulisan ilmiah seperti "Notes sur l'Islam dans l'Indochine Francaise" tulisan Antoine Cabaton dalam Revue du Monde Musulman terbitan tahun 1906; "Les Chams musulmans de l'Indochine Francaise" tulisan Antoine Cabaton juga di dalam Revue du Monde terbitan tahun 1907; tulisan J. Baccot dalam On G'mu et Cay a O Russei. Syncrerisme religieux dans un village cham du Cambodge (1968);P.Y.Manguin dalam "L'introduction de l'Islam au Campa" terbitan BEFEO tahun 1979; "Les Musulmans de l'Indonchine francaise" (1971) tulisan M.Ner dan banyak lagi sumber lainnya."
             "Jadi penjelasan Romo Kyai Semar Puzz itu didukung data ilmiah, ya kang?"
             "Ya pasti toh, romo kyai itu kan orang jujur. Tidak pernah dusta, apalagi mengada-ada untuk tujuan menista orang lain demi mensucikan dan memuliakan diri sendiri dan agamanya. Karena itu sejak zaman purba, gelar kyai yang disandang romo tidak pernah ada yang menyoal karena beliau memang benar-benar kyai yang menurunkan para kyai," jelas Petruk Puff.
             "Yang pasti ke-kyai-an Romo Semar bukan bandingan ke-kyai-an palsu Makhrus Ali, benar begitu kang?" kata Bagong Purr berkomentar.
             "Yo pasti Gong, mana bisa manusia jujur dibandingkan dengan pendusta?" sahut Petruk Puff disambut tepuk-tangan cantrik-cantrik yang lain.
            "O iya kang, ternyata ustadz pendusta  itu punya murid yang juga tidak kalah kepakarannya dalam hal dusta," sahut Doyok Pudd.
            "Apa iya dia punya murid?" tanya Petruk Puff.
            "Itu ustadz palsu Abdul Aziz yang ditangkap dan ditahan polisi Kulon Progo gara-gara mengaku mantan pendeta Hindu," sahut Doyok Pudd.
            "O begitu ya?' Petruk Puff mengangguk-angguk,"Bagaimana ceritanya?"
            "Ya waktu ceramah di Masjid Agung Kulon Progo, ustadz palsu itu mengaku mantan pendeta  Hindu dan menghujat amaliah tradisi NU yang disebutnya warisan Hindu yang sesat. Rupanya, ustadz palsu itu pakai rujukan bukunya ustadz pendusta  yang penampilannya kayak wong mbambung itu," kata Doyok Pudd.
            "Terus?" tanya Petruk Puff penasaran.
           "Ya saat itu maju ke muka Professor Ida Bagus Agung, Ketua Parisada Hindu Dharma Yogyakarta, mengajak ustadz palsu itu untuk berdebat masalah Agama Hindu. Ternyata, ustadz palsu itu mengajak bersitegang karena memang dia  tidak tahu apa-apa soal Agama Hindu kecuali dari bukunya ustadz  pendusta itu," kata Doyok Pudd menjelaskan.
          "Akhirnya?" tanya Petruk Puff.
           "Ya ustadz palsu itu ditangkap polisi," sahut Doyok Pudd,"Setelah diinterogasi, ternyata dia  tidak punya KTP. Pengakuannya sebagai mantan pendeta juga dusta. Dia mengaku bernama Ida Bagus Oka tapi bapaknya bernama Ketut Jeglong, nah kelihatan kan bahwa dia dusta. Mana ada Ketut menurunkan Ida Bagus?  Akhirnya Dajjal kecil pembohong itu ditahan dengan tuduhan penistaan agama."
            "Oo gitu ya," kata Petruk Puff manggut-manggut,"Bagaimana itu, ada agama kok disiarkan dengan dusta. Itu pasti agama dusta."
            "Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dan anak keturunan kita dari agama sesat penuh dusta itu."
            "Aamiiin.." sahut para cantrik serentak.
By: Agus Sunyoto

Yang Mengaku Mantan Pendeta itu Ternyata Ustadz Palsu

Sabtu sore warga kampung rame-rame berkerumun di depan mading (majalah dinding) membaca berita yang didapat dari Densus 26 Jogjakarta. Berita itu menarik perhatian warga kampung karena mengabarkan ustadz Abdul Aziz, orang yang mengaku mantan pendeta Hindu ditangkap polisi dengan tuduhan penodaan agama. ustadz Abdul Aziz yang pernah mengisi pengajian di rumah ustadz Salaf al-Sempruli menghujat dan menista amaliah warga Nahdliyyin seperti peringatan orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 sebagai kelanjutan amaliah Hindu yang sesat, rupanya kena batunya. Sebab uztads Abdul Azis yang mengaku mantan pendeta Hindu itu ternyata buta sama sekali dengan ajaran Hindu, sehingga semua yang diungkapkan sebagai pengakuannya atas amaliah praktis ajaran Hindu itu ternyata hasil mengutip dari omongan dan tulisan imajinatif  ustadz Machrus Aly al-Seneweni. Ada pun isi berita dari Densus 26 Jogjakarta itu sebegai berikut:
 Ustadz Abdul Azis Mantan Pendeta Hindu Kena Batunya, Kini Ditahan Polisi
      Rabu Pon malam (16/11/2011), ustadz Abdul Aziz (orang yang mengaku mantan pendeta Hindu ceramah di Masjid Agung Kulon Progo (KP) Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti biasa, ustadz Abdul Aziz dalam acara itu dikawal oleh satuan pasukan khusus HI (Harakah Islamiyyah).  Dalam setiap ceramahnya, dia selalu menghujat-menistakan amaliah NU yang katanya bersumber dari ajaran Hindu.
       Seperti biasa, ustadz Abdul Aziz malam itu memulai ceramah dengan menceritakan bagaimana prosesnya dia masuk  Islam. Setelah itu, dia mulai bicara penghujatan dengan mengupas tradisi mitoni (tujuh bulanan) dan mengubur ari-ari bayi, yang ia anggap sebagai amaliah sesat agama Hindu yang dilanjutkan orang NU.
      Tanpa diduga, tiba-tiba seorang peserta berdiri dan maju ke depan. Orang itu mengaku sebagai Professor Ida Bagus Agung, Ketua Parisada Hindu Dharma Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan tegas, Prof Ida Bagus Agung yang berdarah Brahmana itu mengajak Abdul Aziz untuk berdebat tentang agama Hindu.
      Abdul Aziz seketika gemetar. Ia berusaha menguatkan diri dengan mengajak bersitegang menyoal orang Hindu masuk masjid. Suasana pun panas ketika pasukan HI bersiaga melindungi Abdul Aziz dan akan menyerang Prof Ida Bagus Agung, sementara  puluhan anak-anak muda Nahdliyyin yang ikut pengajian sudah siap mengambil tindakan jika Abdul Aziz dan pasukan pengawalnya menyerang Prof Ida Bagus Agung. Akhirnya, Abdul Aziz diturunkan polisi dan digelandang ke Mapolres Kulon Progo.
          Dalam pemeriksaan di Mapolres Kulon Progo, terungkap fakta-fakta mengejutkan terkait dusta dan tipuan Abdul Aziz sebagai berikut:
       1. Abdul Aziz tidak punya KTP, sehingga digolongkan PTT (penduduk Tidak Tetap) yang dicurigai berkaitan dengan kelompok-kelompok teroris yang diburu polisi;
        2.Gelar S.Ag (Sarjana Agama) yang disandangnya, ternyata palsu. Ia mengaku selama ini hanya sering ikut pengajian di masjid  UMM alias tidak kuliah;
        3.Mengaku nama aslinya Ida Bagus Oka anak Ketut Badem (Kapolres marah dan menggebrak meja, karena telah jelas Abdul Aziz tidak tahu struktur masyarakat Bali. Kapolres dengan tegas menyatakan bahwa Abdul Aziz telah berbohong karena  nama Ida Bagus itu menunjuk klan Brahmana dan Ketut itu nama orang kebanyakan. Bagaimana mungkin orang biasa menurunkan brahmana?
          Akhirnya, Abdul Aziz dikenai pasal penistaan agama dan ditahan di Mapolres Kulon Progo.
          Dullah yang mendekati warga, bertanya kepada Kang Markasan,"Bagaimana menurut sampeyan kang?"
          "PALSU!," sahut Kang Markasan mengangkat bahu,"Kalau nama palsu, gelar sarjana palsu, identitas palsu pastilah yang lain-lainnya juga palsu."
         "Maksudnya?" tanya Dullah memancing.
         "Ya pengakuan iman, agama, syahadat,  dalil, status sosial, gelar kesarjanaan, gelar ustadz, ucapan, lidah, gigi, jantung, hati, bahkan ususnya pun  pasti palsu."
         "Ha ha ha," Dullah ketawa disambut gelak tawa warga lain,"Ini memang zaman palsu. Zaman Dajjal. Palsu. Palsu. Palsu! Seribu kali palsu."
          "Waspadalah wahai umat," seru Sukiran,"Sekarang ini banyak berkeliaran ustadz-ustadz palsu!"
          "Jadi siapa yang mengaku ustadz harus diuji, sudah  hafal Al-Qur'an 30 juz apa belum?  Sudah hafal berapa ribu hadits Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Ahmad?" sahut Dullah.  
          "Sepakat....!" sahut warga.

By : Agus Sunyoto